navigation: { postpage: 3, numpage: 3, prev: '‹', next: '›', totalpage: '/' }, relatedpost: { image:false, num:4, noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-fcqYJ8sOUtw/X0zEQsZWkVI/AAAAAAAAI24/hAq1jqHHAhYIZoRqkSsdlh3QBBfYcYAwgCLcBGAsYHQ/s150/fiksioner-no-image.png' }, relatedpostMiddlePost: { num: 4, text: 'Related:' } } //]]>

Nasib Bayi 20 Bulan di Aceh Utara, Makan dan Minum Harus Pakai Selang


 Nasib Bayi 20 Bulan di Aceh Utara, Makan dan Minum Harus Pakai Selang


Aqila Fitriana, bayi usia 20 bulan, tampak lemah berada di gendongan ibunya di Desa Meunasah Ampeh, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara.


Bayi perempuan itu terpaksa mengkonsumsi makanan dan minuman lewat selang akibat penyakit yang dideritanya.


Selang itu dipasang lewat hidung. Sungguh memilukan.


Ibunya, Delina (30) berusaha tegar menggendong sang bayi. Sesekali matanya nanar menatap buah hatinya itu.


Selang itu dipasang tiga bulan terakhir. Karena, rahang sang bayi tak berfungsi dengan baik. Sehingga tak bisa mengunyah makanan.


“Dokter menyebutkan beberapa penyakit sekaligus ada di tubuh anak saya, mulai dari infeksi saluran kencing, cairan dalam otak, lumpuh saraf, rahang tidak berfungsi serta gizi buruk,”  kata Delina pilu.


Kejang setelah lahir

Ibunya sadar sejak dua hari setelah melahirkan Aqila mengalami kejang-kejang. Sejak saat itu, Aqila rutin berobat.


Meski dengan penghasilan seadanya, sang ibu berupaya tetap membawa anaknya ke dokter. Bahkan sudah sampai ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh. Rumah sakit pemerintah terbesar di provinsi itu.


“Pilihan dua diberikan dokter, rawat inap atau rawat jalan. Saya memilih rawat jalan, karena anak lainnya tiga lagi juga butuh perhatian. Kami diberi resep dokter untuk obat, dan itu mahal,” katanya.


Biaya obat Rp 1,8 juta sekali pakai....

Dia menunjukan obat. Biayanya Rp 1,8 juta per sekali pakai. Sisi lain, sang suami hanya sopir di salah satu perusahaan dengan gaji pas-pasan.


Keluarga ini tak mampu. Menetap di rumah kayu yang nyaris rubuh.


Dia menyebutkan, selang untuk saluran makanan harus diganti per 10 hari ke dokter.


“Saya pasrah dan sekuat tenaga semampu saya mengobatinya. Semoga Allah memberikan jalan terbaik,” terangnya.


Gizi buruk dan penyakit penyerta

Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Tanah Luas, Azmi, menyebutkan bocah itu mengalami gizi buruk dengan penyakit penyerta.


“Pasien itu sudah kami rujuk ke rumah sakit. Di sana alat lebih lengkap,” katanya.


Petugas kesehatan rutin mengunjungi Aqila untuk memastikan kondisi kesehatannya. “Kami juga sering teleponan dengan orang tuanya buat memonitor bayi itu,” pungkasnya.

Related Posts