navigation: { postpage: 3, numpage: 3, prev: '‹', next: '›', totalpage: '/' }, relatedpost: { image:false, num:4, noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-fcqYJ8sOUtw/X0zEQsZWkVI/AAAAAAAAI24/hAq1jqHHAhYIZoRqkSsdlh3QBBfYcYAwgCLcBGAsYHQ/s150/fiksioner-no-image.png' }, relatedpostMiddlePost: { num: 4, text: 'Related:' } } //]]>

Hati-Hati, 5 Kebohongan Ini Dapat Menghancurkan Pernikahan, Meskipun Sudah Lama Menikah


 Hati-Hati, 5 Kebohongan Ini Dapat Menghancurkan Pernikahan, Meskipun Sudah Lama Menikah


Percayalah, 5 kebohongan atau pola pikir ini dapat mengakibatkan kerusakan pernikahan jika tetap dibiarkan.


Bukan, saya memang tidak dapat mengulas tentang kebohongan di dalam pernikahan yang sering dijalankan pasangan di dalam pernikahan. Justru, saya dapat menulis tentang kebohongan yang singgah berasal dari diri sendiri. ‘Kebohongan’ pola pikir yang harus segera diperbaiki.


Tidak dapat dipungkiri, sebuah pernikahan dapat terjadi beriringan bersama beragam konflik. Sayangnya, konflik tidak mungkin dapat dihilangkan dari sebuah pernikahan.


Bahaya? Tidak juga. Seperti yang dikatakan Psikolog Pernikahan, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., sebuah pernikahan memang dapat senantiasa dibumbui dengan konflik. Ia pun menegaskan, salah satu kunci pernikahan yang sehat adalah saat kita dan pasangan tidak melupakan afeksi atau kasih sayang.


Artinya, tiap pasangan memang harus merawat jalinan untuk senantiasa mesra. Di mana masing-masing individu dapat jalankan komunikasi dua arah, saling memberikan pandangan, dan idealnya juga dapat saling mengembangkan satu sama lain.


“Sebenarnya dengan terdapatnya konflik, sesekali bertengkar justru dapat menyelamatkan karena pada tahapan selanjutnya emosi yang sudah nge-drop dapat naik lagi. Kalau pasangan yang mempunyai masalah, dibiarkan begitu saja, maka dapat membuat level emosi justru dapat turun terus. Punya konflik justru dapat bermanfaat untuk tingkatkan level emosi,” ujar psikolog yang sering disapa bersama panggilan Nina Teguh ini.


Selain itu salah satu landasan yang harus diingat di dalam merawat komitmen pernikahan pasti saja tentang dengan kejujuran. Tidak cuma membohongi pasangan, kebohongan yang dimaksud juga tentang dengan pola pikir diri sendiri, ‘kebohongan’ yang lambat laun Bunda yakin yang ternyata dapat mengakibatkan kerusakan pernikahan.


Inilah beberapa kebohongan di dalam pernikahan yang harus dihindari.


1. Saya sudah menikahi orang yang salah


Inilah kesalahan terbesar berasal dari semua kebohongan di dalam pernikahan! Sadarkah Anda bahwa Anda memang tidak menikahi orang yang salah. Kenyataan sebenarnya, anda  dan pasangan cuma masih berada di dalam fase pernikahan yang sulit. Cara terbaik untuk melewatinya pasti saja menemukan titik temu.


Alih-alih coba melakukan perbaikan satu sama lain, kesimpulan bahwa menikahi orang yang salah justru cuma dapat membuat anda tetap fokus terhadap diri sendiri. Bukan mencari solusi dari masalah yang tengah dihadapi.


Mulailah memandang pasangan anda dari sisi yang berbeda. Ingatlah momen di mana Anda menjadi jatuh cinta padanya. Mungkin selama ini cuma pasanganlah yang dapat memahami bagaimana caranya membuat anda kembali tersenyum. Atau, selama ini pasanganlah yang tetap mendorong dan memberikan dorongan sehingga anda mencapai titik kesuksesan.


Percayalah jika soulmate atau belahan jiwa memang bukan ditemukan, namun diciptakan. Semua tidak berasal dari usaha keras dan perjuangan diri sendiri untuk menciptakan belahan jiwa masing-masing. Maka di dalam sebuah pernikahan, sistem menciptakan soulmate terjadi terus menerus. Prosesnya memang tidak dulu mudah.


Di dalamnya ada rasa sakit, pahit ataupun getir yang harus diterima. Tapi itu memang perjalanan yang harus dilalui. Untuk itu, jangan dulu ‘lari’ karena jika fase sulit di dalam pernikahan dapat dilewati, pasti dapat berakhir dengan happy ending.


2. Saya sudah tidak mencintai pasangan saya lagi


Merasa jika rasa cinta tiba-tiba lenyap seiring umur pernikahan memang sebuah alasan yang memadai lazim dan sering didengar. Tapi benarkah layaknya itu? Ternyata ini adalah kebohongan di dalam pernikahan yang harus dihindari.


Yang pasti alasan ini bukan jadi pembenaran terjadinya perselingkuhan. Mencari jalinan yang baru justru hanya sebuah kesalahan. Oleh karena itu, mengapa tidak meluangkan waktu satu sama lain? Termasuk meluangkan waktu untuk diri sendiri.


Anda dan pasangan cuma harus ‘menghidupkan’ kembali gairah percintaan. Cari tahu apakah Anda dan pasangan dapat terlibat di dalam sebuah kegiatan bersama-sama? Melakukan hobi yang selama ini tertunda? Atau bisa juga sekadar pergi kencan romantis lebih sering lagi!


3. Perkawinan saya tidak dapat diperbaiki lagi


Jika anda sejak awal memang sudah mempunyai niat baik, seluruhnya pasti dapat diperbaiki. Termasuk pernikahan. Ya, memang pasti saja ada pengecualian, kondisi yang membuat anda berpikir terkecuali pernikahan memang sudah tidak layak diteruskan lagi.


Namun, jika memang kondisi pernikahan masih memungkinan untuk dijalankan, tidak ada salahnya lebih dulu berusaha. Bila harus cari pemberian tenaga professional layaknya psikolog atau konselor pernikahan yang dapat membantu untuk mencari jalan keluar..


Hal terbaik yang dapat anda jalankan adalah jalankan pembicaraan berasal dari hati ke hati bersama pasangan dan jelaskan kekhawatiran apa saja yang dirasakan, serta rencana yang dapat dibuat di masa datang.


4. Semua terjadi gara-gara kesalahan pasangan saya


Ingat, pada dasarnya tidak ada satu orangpun yang senang disalahkan. Dan menyalahkan pasangan Anda gara-gara jalinan yang gagal cuma dapat memperburuk kondisi pernikahan. Bahkan, para pakar psikolog berpikiran hal ini sebagai salah satu jenis pelecehan emosional.


Dengan menyalahkan pasangan tetap menerus, menyudutkannya, pasti saja dapat membuat pasangan anda mengalami rasa bersalah dan turunkan harga dirinya.


Apakah hal ini membuat anda tidak dapat mengekspresikan diri? Mengutarakan apa yang ada dipikiran terhadap pasangan? Tidak juga, namun yang dibutuhkan di sini adalah bagaimana anda harus mengontrol emosi. Cobalah ungkapkan perasaan Anda dengan kalimat yang tidak menyudutkan.


Idealnya di dalam pernikahan selagi pertengkaran terjadi harus senantiasa dapat memilih kalimat yang baik, tanpa harus membuat pasangan tersudut lebih-lebih menjadi hingga terhina.


Ketika tengah emosi, dan ingin mengutarakan pada pasangan, gunakan ‘I message’, metode ‘I message’ ini membuat pernyataan menggunakan kata saya, jika ‘Saya kecewa anda layaknya ini…” Selain itu, pasti saja dikombinasikan bersama intonasi tenang, mata menatap prihatin atau sedih (bukan marah).


5. Kebohongan di dalam pernikahan: Pasangan tidak membuat aku bahagia


Pertama, perlu untuk diingat dan digaris bawahi bahwa bukan tanggung jawab pasangan untuk membuat anda bahagia. Bukankah menemukan rasa bahagia merupakan tugas kita kita sendiri?


Daripada menyalahkan pasangan gara-gara membuat anda tidak bahagia, lebih baik ingat hal apa saja yang dapat membuat anda bahagia. Kemudian, jangan lupa untuk menikmatinya.


Jika ada rutinitas tabiat pasangan yang menjadi menyulitkan, bicarakanlah hal itu. Jelaskan kepada pasangan bahwa Anda berdua harus hidup berdampingan dan saling mengisi satu sama lain. Tunjukkan terhadap pasangan, jika anda senantiasa bersedia berbagi untuk merawat kondisi yang hangat di rumah.


Cobalah untuk mengawali memandang pernikahan dari sisi berbeda dan pasti saja lebih positif. Jangan cuma fokus terhadap kekurangan dan konflik yang mengisi di dalam rumah tangga.


Kebohongan di dalam pernikahan atau pola pikir yang salah dan tetap menerus tertanam di dalam otak, justru dapat mengakibatkan kerusakan pernikahan. Pasalnya, dari sanalah sumber rasa sayang, pengertian dan kasih sayang perlahan-lahan dapat terkikis.


Related Posts