navigation: { postpage: 3, numpage: 3, prev: '‹', next: '›', totalpage: '/' }, relatedpost: { image:false, num:4, noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-fcqYJ8sOUtw/X0zEQsZWkVI/AAAAAAAAI24/hAq1jqHHAhYIZoRqkSsdlh3QBBfYcYAwgCLcBGAsYHQ/s150/fiksioner-no-image.png' }, relatedpostMiddlePost: { num: 4, text: 'Related:' } } //]]>

Kisah Pilu Seorang Ibu Yang Kehilangan Putra Kesayangannya, Jatuh Sakit Saat Kuliah di Aceh dan Meninggal Dunia di Malaysia


 Kisah Pilu Seorang Ibu Yang Kehilangan Putra Kesayangannya, Jatuh Sakit Saat Kuliah di Aceh dan Meninggal Dunia di Malaysia


Muhammad Fadhli Bin Muhammad Idris, lulusan sarjana Hukum Keluarga di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, meninggal dunia pada usia 31 tahun karena mengidap Sindrom Nefrotik. Di usia 12 tahun, ia telah mampu menyelesaikan hafalan 30 Jus di Maahad Fouad Khamis Azhari, di Aysir min Ramadhan, Mesir. 


Kisah seorang ibu yang kehilangan putra kesayangannya viral di Malaysia. Sang anak merupakan lulusan UIN Ar-Raniry dan juga hafiz Alquran, meninggal dunia karena mengidap sindrom nefrotik. Mulai jatuh sakit saat berkuliah di Aceh dan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Kuala Lumpur.


Kehilangan orang yang dicintai adalah moment yang sangat menyakitkan, dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Begitulah perasaan yang dialami Nor Anisah dan keluarganya saat diberi ujian oleh Allah dengan meninggalnya Muhammad Fadhli Bin Muhammad Idris, putra kesayangannya.


Fadhli meninggal dunia akibat sindrom nefrotik, di mana ginjalnya mengalami gangguan. Kisah pilu Nor Anisah yang diposting di laman Facebooknya tiba-tiba menjadi viral, yang kemudian diangkat dalam media Malaysia,Kamis (12/11/2020).


“Semoga almarhum putra kami berbahagia di Raudhatul Sakinah bersama orang-orang saleh dan syuhada yang berada di sana,” katanya yang mengawali tulisan itu.


Muhammad Fadhli Bin Muhammad Idris, menghadap Sang Ilahi pada Minggu 8 November 2020 selepas shalat Maghrib pukul 19:19 waktu setempat. Banyak yang terkejut dengan kepergian mendadak ini dan masing-masing dari mereka ingin mengetahui kisah sebenarnya.


Untuk menjawab semua pertanyaan warganet, Nor Anisah membagikan kisah perjalan hidup anaknya hingga kemudian menghadap Sang Pencipta. “Anak kami adalah anak kedua dari enam bersaudara yang lahir di Bentong, Pahang tanggal 30 Januari 1989,” ujarnya.


Sejak berusia 10 tahun, ia dan saudara-saudaranya yang lain telah dikirim ke Mesir untuk belajar menghafal Alquran. Penuturan ibunda, Fadhli telah mampu menyelesaikan hafalan 30 juz pada tahun 2001 di Maahad Fouad Khamis Azhari, di Aysir min Ramadhan, Mesir.


“Anak ini memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa, bahkan guru tahfiznya pernah berkata bahwa dia telah menghafal 6 surah sekaligus pada sekali tasmi’ dengan lancar, dan Alhamdulillah dia telah menyelesaikan hafalan 30 juz pada usia 12 tahun,” ujar Anisah.


Setelah selesai menghafal dan kembali ke Malaysia, ia melanjutkan sekolah menengahnya di Maahad Al-Ummah Chemor dan SMK Jelapang Jaya. Kemudian menempuh pendidikan pengajian tingginya di Kolej Universiti Islam Pahang Sultan Ahmad Shah.


Fadhli kemudian melanjutkan pendidikan tingginya dan memperoleh gelar sarjana Hukum Keluarga di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Selama di Aceh, ia sempat mengalami jatuh sakit dan dibawa kembali ke Ipoh untuk diperiksa dan dirawat.


Hasil pemeriksaan menemukan bahwa ia mengalami masalah sindrom nefrotik dimana ginjalnya mengalami beberapa masalah. Namun hidupnya berjalan seperti biasa dan melanjutkan studi lanjutan di Advanced Diploma Fikih di Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Malaysia.


Penyakitnya kambuh saat menghadapi ujian akhir di UIA yang menyebabkan dia kehilangan dua ujian. Selanjutnya setelah diberi kata-kata motivasi, ia mencoba melanjutkan studinya di Universitas Sains Islam Malaysia (USIM). Namun, kondisi kesehatannya yang tidak stabil membuat dia tidak bisa mengikuti ujian semester 2 di USIM.


Hingga saat itu, Fadhi masih stabil dan mampu menjalani kehidupan seperti biasa meski dengan keterbatasan. Namun pada akhir September 2020, kesehatannya memburuk karena jantungnya mulai terganggu dan perawatan terakhirnya di Institut Jantung Negara (IJN) Malaysia.


Setelah mendapat perawatan, Fadhli diizinkan meninggalkan IJN pada 28 Oktober 2020 untuk melanjutkan perawatan di rumah. Dalam kondisi sehat, stabil dan mampu berkomunikasi dengan baik, ia berjalan dengan sedikit dukungan.


“Syukur kepada Allah karena ternyata kami sekeluarga diberi kesempatan untuk bersamanya di akhir hidupnya, meski kami tidak menyadari bahwa itu memang saat-saat terakhir yang Allah berikan,” ujar Anisah.


Fadhli yang merupakan lulusan UIN Ar-Raniry kerap mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa membahagiakan ayah dan ibu. Beberapa kali ia meminta maaf dan mencium pipi ibunya karena takut tidak ada waktu lagi untuk meminta maaf.


“Dia berulang kali mencium pipi Ummi dan merasa sangat senang dan senang bisa bersama ummi,” tutur Fadhli, seperti yang diceritakan Anisah. “Sebagai seorang ibu, saya mengampuni semua dosanya dan senang dengannya,” tutur Anisah.


Pagi 6 November 2020, dia melakukan panggilan video dengan teman-teman lamanya selama dia berkuliah di Aceh, di KUIPSAS dan Ipoh. Pada pagi hari tanggal 7 November 2020, Fadhli mejalankan shalat di penghujung malam, berzikir hingga Subuh, dan menyelesaikan shalat Subuh.


“Di hari itu, setelah shalat Ashar dia mulai batuk dan mengeluarkan cairan darah. Saat itu saya tiba-tiba merasa terpanggil untuk menghubungi saudara-saudaranya yang berada di Kuantan, Johor dan Jordan untuk bisa melepaskan kerinduannya pada mereka,” ujar Anisah.


“Ia terlihat sangat bahagia meski dalam kesakitan karena bisa menatap wajah kakak beradik yang sudah lama tidak bersama,” cerita Anisah lagi.


Sebelum Maghrib batuknya semakin sering dan parah, sehingga harus dibawa ke rumah sakit. “Sebelum dibawa, kami menunaikan shalat Maghrib terlebih dahulu begitu juga dengan Fadhli yang telah menyelesaikan kewajiban shalat Maghrib terakhirnya,”


Setelah itu, Anisah dan keluarganya membawa Fadhli ke unit gawat darurat Rumah Sakit Kuala Lumpur. Sepanjang perjalanan, Fadhli menggenggam tangan ibu dan istrinya dengan erat sambil meminta maaf berkali-kali dan mengucapkan dua kalimat syahadat yang tak henti-hentinya.


Sesampainya di rumah sakit, Fadhli kemudian dilarikan ke dalam ruangan tertutup dan menghilang tanpa kabar. “Hampir satu jam kemudian, kami diminta masuk ke ruangan kritis untuk melihat, menyampaikan pesan terakhir dan mengajari beliau dua kata syahadah. Jantung saya berdegup kencang mendengar permintaan itu,” ungkap sang Ibu.


“Tetapi sungguh mengejutkan, ketika petugas medis mengatakan mereka perlu menidurkannya karena jantungnya semakin lemah dan membutuhkan tindakan segera,” tambah Anisah.


Keluarga Fadhli juga diberitahu bahwa ada kemungkinan dia tidak akan bangun lagi jika perawatan ini gagal. Keesokan harinya pada 8 November 2020, rumah sakit menginformasikan bahwa mereka telah mencoba yang terbaik untuk menyelamatkannya, tetapi kuasa Allah SWT diatas segalanya.


“Setelah shalat Maghrib, kami diberi tahu bahwa putra kami Fadhli telah pergi untuk selama-lamanya,” kata Anisah. “Ia pergi dalam keadaan tenang. Semoga Allah menerimanya dan memaafkan kesalahannya di dunia ini,” pungkas sang Ibu.


Almarhum Fadhli meninggalkan seorang istri, Nurnadeeya serta seorang anak perempuan bernama Elmawaddah yang berusia 3 tahun.


Related Posts