navigation: { postpage: 3, numpage: 3, prev: '‹', next: '›', totalpage: '/' }, relatedpost: { image:false, num:4, noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-fcqYJ8sOUtw/X0zEQsZWkVI/AAAAAAAAI24/hAq1jqHHAhYIZoRqkSsdlh3QBBfYcYAwgCLcBGAsYHQ/s150/fiksioner-no-image.png' }, relatedpostMiddlePost: { num: 4, text: 'Related:' } } //]]>

6 Langkah Elegan Menghadapi Pelakor yang Merusak Rumah Tangga


 6 Langkah Elegan Menghadapi Pelakor yang Merusak Rumah Tangga


Tentu semua orang ingin mempunyai hubungan cinta yang bahagia. Segala cara pun dilakukan untuk meraihnya. Mulai dari menyenangkan pasangan dengan hal-hal sederhana, sampai menyesuaikan mimpi kita agar bisa terus membersamainya. Namun terkadang, hal yang tak terduga bisa terjadi dalam hubungan asmara. Salah satunya adalah munculnya orang ketiga atau pelakor yang merusak segalanya.


Barangkali sudah banyak yang tahu, pelakor adalah singkatan dari perebut lelaki orang. Kata ini digunakan untuk menyebut wanita yang menjalin hubungan dengan seorang lelaki, padahal lelaki itu telah berumah tangga. Tentu adanya pelakor dalam pernikahan sangat ditakuti banyak wanita. Namun seandainya kita harus menghadapi pelakor, apa yang sebaiknya dilakukan? 


Mari simak cara menghadapinya dengan elegan.


1. Saat mengetahui adanya pelakor dalam hubungan, wajar kalau hati merasa terguncang. Namun tetap berusahalah mengontrol emosi


Barangkali selama ini kita mengira rumah tangga kita baik-baik saja. Namun setelah tahu adanya orang ketiga, semua jadi berubah. Wajar kalau kita merasa sangat sedih, marah, dan terkejut campur aduk jadi satu. Meski begitu, berusahalah untuk mengendalikan perasaan tersebut. Nggak ada salahnya menangis. Namun, jangan meluapkan perasaan dengan cara yang kelak membuat kita menyesal. Lebih baik luangkan waktu sendirian dan pahami emosi kita dengan perlahan.


2. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Terlebih dulu, tanyakan segalanya pada pasangan


Terburu-buru mengambil keputusan bisa berbuah penyesalan. Persoalan ini tetap harus dibicarakan berdua dengan pasangan. Tanyakan padanya, mengapa dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan wanita lain padahal sudah berumah tangga? Mintalah padanya untuk sejujur mungkin. Tak perlu menutupi apapun lagi, sebab hanya akan membuat semakin sakit hati. Justru jawaban jujur darinya akan membuat lebih mudah untuk mengambil langkah selanjutnya.


3. Temui sang pelakor dengan tenang. Jangan asal melabrak, sebab bisa membuat masalah melebar ke mana-mana


Wajar kalau merasa marah dan sakit hati sehingga rasanya ingin segera melabrak si pelakor secara langsung. Namun kita tetap harus tenang. Jangan asal melabraknya, sebab ini bukanlah cuma si pelakor saja. Pasangan kita juga berperan sehingga perselingkuhan ini terjadi. Maka saat bertemu sang pelakor, cobalah bicarakan dengan tegas. Tanyakan padanya, mengapa dia menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah beristri? Apakah dia memang setega itu melakukannya, walaupun sudah tahu status yang sebenarnya?


Pertanyaan itu perlu dilontarkan untuk memastikan kebenaran. Sebab ada kalanya, seorang pelakor tak tahu bahwa dia telah merebut suami orang lain. Bisa saja suami kita mengaku masih single padanya, lalu dia menanggapi karena merasa wajar-wajar saja. Seandainya itu yang terjadi, sudah tahu kan siapa yang lebih bersalah?


4. Setelah mendapat penjelasan lengkap, saatnya mengambil tindakan. Pikirkan masak-masak dan mintalah pertimbangan dari orang lain


Sebaiknya kita baru bertindak setelah mendengar penjelasan dari kedua belah pihak, yakni dari suami dan sang pelakor. Pikirkanlah masak-masak sebelum mengambil keputusan. Apakah sebaiknya melanjutkan rumah tangga dan memaafkan pasangan? Bisakah kita percaya lagi pada suami setelah hal mengerikan ini terjadi?


Bicarakanlah berdua dengan suami. Sebagai pasangan yang telah menjalin cinta bersama, barangkali tetap ingin mempertahankan rumah tangga. Apalagi kalau sudah ada kehadiran anak. Namun jika memutuskan untuk berpisah, tak apa-apa. Pastikan saja bahwa kedua belah pihak menyetujuinya. Selain meminta pendapat suami, kita juga bisa meminta pendapat pada orang-orang lain yang dipercaya. Bisa orang tua, saudara, atau sahabat dekat.


5. Hindari mengunggah apapun tentang pelakor ke media sosial kita. Sebab kita bisa malu sendiri nantinya


Menahan diri / Credit: Cristian Newman via unsplash.com


Dalam situasi seperti ini, kita memang membutuhkan banyak dukungan. Ingin rasanya mendengar orang lain ikut menjelek-jelekkan sang pelakor atau menyalahkan suami kita. Namun apapun yang terjadi, jangan sampai membagikan masalah ini ke media sosial. Sebab kita justru akan dicap “ratu drama” dan mendapat pandangan buruk dari orang lain. Kalau butuh meluapkan perasaan, lebih baik curhat langsung pada orang-orang yang dipercaya. Jangan lupa untuk meminta mereka agar tak menyebarkannya.


6. Kuatkan diri selama proses yang menyedihkan ini. Yakinlah bahwa masa depan yang lebih baik telah menanti


Sesakit apapun rasanya, kondisi ini akan berakhir pada akhirnya. Jadi berusahalah untuk menguatkan diri kita. Walaupun hati hancur, bersikaplah tegas pada suami dan sang pelakor. Tak perlu merasa takut atau malu. Sebab bukan diri kita yang bersalah. Tetaplah sabar dan kembalikan rasa percaya diri kita perlahan-lahan. Yakinlah, suatu saat kondisi akan menjadi lebih baik.


Menghadapi hubungan yang rusak karena pelakor memang tak mudah. Namun kalau kita berhasil bertahan melaluinya, selamat! Itu berarti kita telah memperjuangkan masa depan yang lebih indah

Related Posts