navigation: { postpage: 3, numpage: 3, prev: '‹', next: '›', totalpage: '/' }, relatedpost: { image:false, num:4, noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-fcqYJ8sOUtw/X0zEQsZWkVI/AAAAAAAAI24/hAq1jqHHAhYIZoRqkSsdlh3QBBfYcYAwgCLcBGAsYHQ/s150/fiksioner-no-image.png' }, relatedpostMiddlePost: { num: 4, text: 'Related:' } } //]]>

Inilah 12 Penyebab Umun Tidak Bahagia Setelah Menikah

 

Inilah 12 Penyebab Umum Tidak Bahagia Setelah Menikah


Beberapa orang berasumsi bahwa menikah adalah gerbang menuju kebahagiaan. Pemikiran itu memang tidak salah. Tapi bukan bermakna menikah selamanya tentang kesenangan dan hal-hal indah lainnya.


Faktanya, sehabis menikah bakal ada banyak halangan yang mesti Anda hadapi. Entah dari faktor ekonomi, anak, atau kasus internal lainnya.


Jika Anda dan pasangan tidak dapat menangani halangan selanjutnya secara baik, maka halangan itu jadi pemicu ketidak bahagiaan di dalam rumah tangga. 


Berikut ini 12 penyebab lazim tidak bahagia sehabis menikah :


1. Adanya KDRT


Penyebab utama yang mengakibatkan seseorang tidak suka sehabis menikah yakni terdapatnya kekerasan di dalam rumah tangga (KRDT). Baik itu kekerasan verbal atau kekerasan fisik.


Ketika pasangan mengeluarkan omongan-omongan kasar yang menyakiti hati Anda, tentu saja hal itu dapat memudarkan rasa cinta, bukan? Terlebih lagi, kecuali dia hingga melukai fisik Anda, wah tambah beresiko deh!


Baiknya tindakan-tindakan yang demikian itu dihindari. Sebab tidak ada gunanya juga! Sebagai pasangan suami-istri, hendaknya Anda dan pasangan bersikap dewasa dan saling memahami. Dengan begitu, dapat tercipta kondisi rumah tangga yang harmonis.


2. Saling Mementingkan Ego Masing-Masing


Ketidak bahagiaan sehabis menikah termasuk dapat muncul tatkala Anda dan pasangan sama-sama keras kepala. Saling mementingkan ego masing-masing, dan tidak ada yang sudi mengalah. Well, sikap yang demikian itu dapat membunuh pernikahan, lho!


Tentunya Anda tidak inginkan pernikahan Anda hancur cuma karena keegoisan semata, kan? Bila Anda memang berniat melindungi pernikahan sehingga awet, maka sebisa bisa saja kesampingkan urusan ego.


Bukan bermakna Anda mesti bersikap seolah tak punya harga diri. Tapi coba mengontrol emosi. Bagaimanapun, Anda termasuk mesti membayangkan perasaan pasangan. Bersikap lebih acuhkan sehingga kalian dapat sama-sama bahagia.


3. Kurang Komunikasi


Kurangnya komunikasi dapat jadi pemicu pertikaian di dalam rumah tangga, yang berujung pada munculnya rasa tidak suka sehabis menikah.


Anda mesti sadar bahwa komunikasi itu terlalu perlu di dalam sebuah hubungan. Apabila komunikasi tidak terjadi lancar, maka itu dapat jadi pemicu munculnya beraneka kasus dan kesalah pahaman.


Baiknya, Anda bersikap jujur dan membangun keterbukaan dengan pasangan. Komunikasikan segala hal yang Anda alami dan rasakan. Tidak mesti dipendam sendirian ataupun disembunyikan.


Dengan melindungi komunikasi secara intens dan bersikap terbuka itu kunci sehingga rumah tangga awet.


4. Kurangnya Waktu Berkomunikasi Bersama Pasangan


Pernah enggak sih, Anda merasa terlalu fokus dengan pekerjaan hingga lupa waktu, apalagi tak pernah menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarga? Jika Anda memang melaksanakan itu, maka langsung tukar normalitas tersebut!


Bekerja itu memang penting, lebih-lebih bagi suami. Tapi jangan hingga Anda utamakan pekerjaan daripada keluarga. Percuma lho, ada banyak uang tapi keluarga enggak pernah diperhatikan.


Bisa-bisa pasangan Anda mencari pelampiasan lain untuk mengobati rasa kesepiannya. Dan pasti saja, itu dapat jadi pemicu keretakan rumah tangga.


Agar hal jelek selanjutnya tidak terjadi, maka merasa saat ini jangan bersikap acuh! Ciptakan sementara berkualitas Anda dengan keluarga. Selain sementara weekend, sebelum tidur malam termasuk sempatkan mengobrol dengan pasangan.


5. Munculnya Rasa Jenuh


Salah satu tantangan terbesar di dalam melindungi pernikahan adalah melawan rasa bosan dan bosan. Ya, kejenuhan itu dapat berkunjung kapan saja, mengingat Anda hidup dengan satu orang yang sama sepanjang bertahun-tahun.


Itu wajar! Tapi bukan bermakna Anda membiarkannya saja. Sebab kecuali dibiarkan, rasa bosan dapat mengakibatkan ketidakbahagiaan.


Yang benar, Anda mesti melawan kejenuhan tersebut. Berusahalah jadi sosok yang sama sementara Anda baru mengenalnya. Sosok yang hangat dan penuh cinta. Dengan demikian, keharmonisan interaksi kalian dapat terjaga.


6. Kurang Mampu Menjaga Komitmen


Penyebab tidak suka sehabis menikah selanjutnya, dapat karena Anda atau pasangan Anda kurang dapat melindungi komitmen.


Janji yang telah Anda bikin sementara awal menikah, mestinya Anda dapat memegang teguh untuk selamanya. Tidak acuhkan bagaimanapun kondisinya, entah seberapa sulit goncangan rumah tangga Anda, apabila komitmen dijaga baik maka interaksi kalian termasuk selamanya utuh.


Sebaliknya, kecuali Anda tidak dapat jaga komitmen, wah hal-hal jelek dapat saja terjadi. Seperti perselingkuhan dan sebagainya. Tentunya itu jadi pemicu ketidak bahagiaan di dalam rumah tangga.


7. Ketidakpuasan Seksual


Jika Anda berpikir bahwa interaksi seks di dalam pernikahan cuma sebagai wujud pelampiasan nafsu belaka, Anda salah! Seks itu punya banyak manfaat, lho! Salah satunya sebagai kunci untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga.


Seks dapat tingkatkan keintiman di antara suami dan istri. Dengan Anda melaksanakan interaksi seks secara intens, hal itu bakal mengakibatkan pasangan merasa dicintai.


Namun disaat seks tidak terjadi lancar, entah dipengaruhi faktor frekuensi, kesegaran ataupun psikologi, maka itu dapat mengakibatkan interaksi yang tak sehat. Di mana sikap pasangan jadi lebih dingin, mudah marah, enggak suka dan sering bad mood.


8. Tidak Saling Memahami


Berikutnya, penyebab tidak suka sehabis menikah karena kurang sikap saling sadar di antara pasangan. Masing-masing cenderung bertindak egois, mementingkan diri sendiri.


Harusnya sih, sikap yang begitu tidak boleh ada di dalam sebuah rumah tangga. Anda tidak dapat memaksakan pasangan untuk sepemikiran dengan Anda.


Bagaimanapun juga, masing-masing orang punya ciri-ciri yang berbeda-beda. Dan menikah itu bukan untuk menyamakan karakter. Tapi untuk saling melengkapi serta bersikap saling memaklumi.


Jika Anda dan pasangan berkesinambungan bersikap egois, maka selamanya Anda tidak bakal mendapatkan kebahagiaan di dalam pernikahan.


9. Belum Dikasih Momongan


Setiap orang yang telah menikah pasti meminta cepat-cepat diberi momongan. Namun sayangnya, hal itu tidak dapat direncanakan. Sebab anak adalah titipan Tuhan.


Jika Tuhan belum menghendaki, maka Anda termasuk tidak dapat memilikinya alias belum hamil juga. Selain dengan bersabar, upaya yang mesti Anda melaksanakan adalah menerapkan sejumlah langkah cepat hamil yang dapat Anda dapatkan dari buku, internet, atau dokter spesialis kehamilan.


Tapi begitu, kadangkala ada beberapa orang yang belum sadar hal tersebut. Ketika keinginannya untuk punya anak tidak terpenuhi, dia malah menyalahkan pasangannya. Menjadi frustasi, apalagi tidak bahagia.


10. Adanya Campur Tangan Orang Tua


Setelah menikah, tentu saja Anda inginkan hidup secara independent dengan pasangan, kan? Tinggal berdua, berjuang dengan menekuni suka dan duka.


Ya, rancangan itu memang muncul indah. Tapi faktanya, banyak orang tua yang enggak sudi membiarkan anaknya begitu saja. Mereka cenderung turut campur di dalam rumah tangga anaknya. Sehingga mengakibatkan kehidupan sang anak tambah berantakan.


Ya, begitulah! Adanya campur tangan orang tua memang sering jadi faktor ketidakbahagiaan sehabis menikah.


11. Adanya Orang Ketiga


Faktor selanjutnya yang mengakibatkan tidak suka sehabis menikah adalah munculnya sosok orang ketiga. Atau dengan kata lain, pasangan Anda selingkuh!


Wah, hal ini pasti tak sekadar menghalau kebahagiaan. Tapi termasuk bikin hati jadi terlalu sakit. Jika sementara ini Anda mengalaminya, maka cepat-cepat selesaikan kasus tersebut.


Lebih baik Anda langsung bertanya kepada pasangan dan langsung cari solusinya. Dengan begitu, Anda tidak mesti menjamin sakit terlalu lama.


12. Faktor Ekonomi


Jujur saja nih, di zaman saat ini faktor ekonomi mengambil alih peranan perlu pada kebahagiaan di dalam rumah tangga. Walaupun banyak orang menyatakan suka tidak dapat dinilai dari harta.


Namun kenyataanya, tak sedikit pasangan suami istri yang berantem cuma karena kasus ekonomi. Tak cuma itu, faktor ekonomi termasuk jadi penyebab dominan perceraian di Indonesia.


Biaya sekolah anak tidak tercukupi, belanja kurang, tidak ada uang bikin ke salon, tidak ada uang bikin shopping, dan lain-lain. Ya, seluruh itu sering mengakibatkan stres hingga mengakibatkan pertengkaran.


Demikianlah 12 penyebab lazim tidak bahagia sehabis menikah. Masalah-masalah di atas memang cukup berat, tapi bukan bermakna tidak dapat diatasi. Jangan gegabah mengambil alih keputusan, coba acuhkan pernah untuk mencari solusinya.



Related Posts